RI Impor Beras Vietnam dan Thailand

Jum, Okt 16, 2015
impor beras

Pemerintah mengaku telah memiliki kesepakatan kerjasama impor beras dari Vietnam dan Thailand sebagai antisipasi untuk mengamankan stok yang terancam akibat musim kering yang berkepanjangan atau El Nino. Menurut Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), intensitas kekeringan tahun ini lebih tinggi dibanding periode 1997-1998.

Impor beras diperlukan karena harga beras di pasar naik 10 persen dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan stok beras sedang menyusut, ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. “BMKG optimistis hujan akan datang pada bulan Desember 2015, tapi dengan lambat. Dan Januari ini mudah-mudahan bisa mulai bertanam. Itu pandangan dari ahli iklim,” jelasnya.

Pemerintah sudah mengecek stok beras di gudang Perum Bulog dan hasilnya hanya ada 1,7 juta ton beras. Dari stok tersebut, ada sekitar 900 ribu ton beras stok komersial. Sedangkan stok beras medium yang dikonsumsi kebanyakan masyarakat hanya tersedia dalam jumlah sedikit, tambahnya. “Padahal kita harus mendistribusikan beras untuk rakyat sejahtera ke-13 dan 14. Lagipula musim panen sudah habis, kita harus menunggu Maret tahun depan,” ungkapnya.

Darmin menjelaskan Vietnam dan Thailand berjanji akan mengirimkan beras sesuai waktu yang diminta pemerintah. Pemerintah menjadwalkan impor beras dari kedua negara itu datang paling cepat November dan paling lambat, karena Oktober masih masa panen.

Tindakan ini mendapat dukungan positif dari Bank Indonesia (BI). Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengatakan pihaknya memandang positif langkah yang diambil Pemerintah dalam melakukan impor beras. Pasalnya, hal ini dapat menjaga inflasi hingga akhir tahun. Menurutnya, musim kering yang berkepanjangan di dalam negeri semakin besar menjelang akhir tahun. Banyaknya stok beras dalam negeri disinyalir membantu terciptanya stabilitas harga beras.